
Mendalami Makna Kesucian dengan Kasih Sayang
Berbeda dengan metode ceramah biasa, Kurikulum Berbasis Cinta ini mengedepankan pendekatan persuasif dan penuh kasih sayang. Ketiga guru tersebut membagi peran untuk memastikan setiap siswa tidak hanya hafal gerakan wudhu, tetapi juga memahami makna di balik pensucian diri.
Ibu Heriyati, S.Pd.I mengawali sesi dengan memberikan pemahaman tentang pentingnya niat yang tulus. Beliau menekankan bahwa wudhu adalah kunci utama sahnya ibadah salat.
Ibu Sahri Rahma, S.Pd.I memberikan demonstrasi langsung mengenai urutan gerakan wudhu yang sesuai dengan sunnah, mulai dari membasuh telapak tangan hingga kaki.
Ibu Zaitun, S.Pd.I bertugas melakukan pendampingan personal (coaching), memastikan air merata ke anggota wudhu siswa dengan penuh kesabaran.
Mengapa "Berbasis Cinta"?
Istilah Kurikulum Berbasis Cinta dipilih karena metode yang digunakan sangat meminimalisir teguran keras. Sebaliknya, para guru menggunakan pujian dan bimbingan lembut agar siswa merasa nyaman dan senang saat belajar agama.
"Kami ingin anak-anak mencintai ibadahnya, bukan merasa terbebani. Dengan 'Kurikulum Berbasis Cinta', kita menyentuh hati mereka terlebih dahulu agar mereka dengan senang hati menyempurnakan wudhunya," ujar salah satu perwakilan guru.
Dampak Positif bagi Siswa
Para siswa tampak antusias mengikuti setiap instruksi. Tidak sedikit dari mereka yang berani mempraktikkan kembali di depan teman-temannya. Kegiatan ini diharapkan dapat membentuk kebiasaan menjaga wudhu (istidomah) dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus mempererat hubungan emosional antara guru dan murid.
Momentum Jumat terakhir di bulan Januari ini pun ditutup dengan doa bersama, membawa harapan agar ilmu yang diajarkan menjadi berkah dan tertanam kuat dalam sanubari para siswa MIN 1 Muaro Jambi.
|
62x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Muaro Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...